Thunder And A Question


Ahn Hye Mi memandang keluar melalui jendela besar di sampingnya. Dia tertegun menyaksikan air yang turun setetes demi setetes di luar sana. Entah sejak kapan ia tidak menyukai hujan. Dia sama sekali tidak bermaksud membenci hal yang diciptakan Tuhan itu. Tidak sama sekali.Hanya saja entah mengapa, tiap hujan turun, dia merasakan sebuah perasaan yang tidak nyaman dalam hatinya. Kesedihankah ? atau Kehilangan ? dia sendiri sama sekali tidak mengerti.

TARR!! Sebuah kilat muncul beberapa kilometer jauhnya, tapi masih terlihat jelas melalui jendela. Hyemi kaget dan sempat melonjak di tempatnya. Kemudian detik berikutnya dia menutup matanya rapat-rapat menyiapkan diri akan suara petir yang biasanya muncul beberapa saat kemudian. Benar saja. DUARRR!! Suara kilat itu menggelegar terdengar dari tempat duduknya begitu keras. Meski Hyemi telah menyiapkan diri untuk mendengar suara itu, tapi tetap saja dia tidak bisa menahan jantungnya yang berdebar lebih keras dan badannya sedikit mengkerut di kursinya. Dan ia merasakan hal itu lagi. Hal yang sama yang dirasakannya setiap mendengar suara petir di tengah hujan. Sekilas ketakutan.

Hyemi menghela nafas. Dia tidak suka dengan perasaannya yang seperti itu. Dia tahu tidak pantas dia sebegitu ketakutannya saat mendengar petir. Dan dia juga tidak suka jika dirinya harus membenci saat-saat dimana awan mendung  yang menandakan hujan akan segera turun muncul. Entahlah, seolah pikiran buruk senantiasa menghantuinya saat awan mendung datang.’Hey, memangnya kamu siapa, sampai harus dipengaruhi cuaca hingga seperti itu’ Hyemi mengutuk dalam hatinya. Tapi masih saja perasaan seperti itu belum bisa dihilangkannya. Dia selalu merasa dia telah melakukan sesuatu yang buruk sebelumnya jika awan mendung datang. Sekali lagi. Hyemi mengerti dan faham, sama sekali tidak ada hubungannya tentang perilakunya dengan hujan. Tapi sekali lagi pula, Hyemi masih belum bisa dan belum tau bagaimana menghilangkan perasaan seperti itu.

Ada yang mengatakan hujan itu adalah berkah. Ya, Hyemi tau, betapa hujan begitu dinantikan oleh petani maupun pemilik kebun yang ingin tanamannya tersiram dengan baik sehingga bisa tumbuh dengan baik pula. Hyemi juga tau betapa beberapa orang malah hanya bisa mendapat uang jika hujan turun. Hujan malah bisa dinikmati dengan riang oleh anak-anak kecil. Namun kini, ia hanya ingin tau apa yang pernah terjadi padanya yang membuat ia begitu tidak menyukai hujan. Hyemi menatap sekilas ke dalam kamarnya. Apakah karena ia seringkali sendiri saat hujan turun ? atauka karena ia harus mengatasi ketakutannya sendiri saat mendengar suara petir yang menggelegar. Hyemi tersenyum tipis. Mentertawakan kebodohannya sendiri. Kebodohan pemikirannya yang masih belum bisa ia tangani itu. Dan matanya kembali melihat ke luar lewat jendela kamarnya. Adakah yang bisa menjawab pertanyaan di benaknya itu dan mengusir ketakutan dan ketidaksukaannya itu ??

FIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s