[Fiction story ]Goo Yu Ra Diary- Part 1- I saw a glimpse of my self


Goo Yu Ra memacu matic-nya perlahan. Saat dia melirik jam di dinding ruang tamunya sebelum pergi, waktu yang ditunjukkannya sekitar pukul empat sore lebih. Waktu yang terlalu sore untuk memulai bepergian, ditambah lagi cuaca yang masih basah setelah hujan sempat turun.

Matic mulai mencapai jalan besar. Yura menengok kesana kemari, mencoba menikmati pemandangan. Tapi pikirannya masih belum bisa tenang. Banyak hal yang melintas disana. Begitu banyak hingga ia merasa tidak bisa berpikir dengan jernih. Yura menghembuskan nafas dengan sedikit sentakan. Mencoba mengurangi perasaan tidak nyaman di dadanya. Dia bahkan tidak tahu apa itu. Marah, kesal, benci, atau sedih.
Yura sebenarnya tidak tau ke arah mana ia menuju. Ia hanya berharap dengan berjalan-jalan sedikit di kota dengan maticnya akan membuat perasaannya sedikit lebih baik. Ia memajukan maticnya ke arah pusat kota. Saat di lampu merah, dia melirik jam di tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 6 kurang. Dia memantapkan hatinya. Dia ingin kesana. Ke sebuah tempat yang selalu bisa memberikan suasana tenang. Tempat paling tenang yang baginya tidak ada tandingannya.
Sekitar setengah jam kemudian ia sampai. Dia melakukan sebuah ‘ritual’ yang wajib baginya disana setelah membasuh wajah dan sebagian anggota badannya dengan air paling sejuk yang selalu tersedia di tempat itu. Tiba-tiba sebuah suara yang cukup keras terdengar.
“Suara apa itu??” seorang gadis yang menurut perkiraan yura berusia tidak jauh berbeda dengannya terdengar sedikit kaget. Yura menatapnya, memastikan apakah dirinya yang sedang diajak bicara oleh gadis itu. Gadis itu menatapnya.
“Suara apa ya?” tanya gadis itu lagi, membuat Yura yakin kalau ia memang yang sedang diajaknya bicara.
“Ah.. aku tidak tau.” Jawab Yura sambil berusaha tersenyum ramah. Suara keras itu terdengar lagi.
“Halilintar kah?” tanya gadis itu lagi.
“Hmm..aku pikir bukan..tapi entahlah..”jawab Yura lagi sambil tersenyum. Gadis itu masih tersenyum, sepertinya dia masih penasaran. Yura membalas tersenyum untuk menanggapinya. Mereka lalu berjalan keluar tempat itu.
“Mau pulang?” tanya gadis itu pada Yura saat mereka berjalan beriringan. Yura mengangguk mengiyakan. Gadis itu menanyakan tempat tujuan Yura. Yura yang beberapa saat belakangan ini sering risih saat diajak bicara oleh orang baru, berusaha menanggapi sebaik mungkin. Setelah ia menyebutkan tempat tujuannya, Yura mengajak gadis itu berjabat tangan.
“Park Yu Ra.” Ucap Yura memperkenalkan diri. Rasanya tidak enak, setelah bicara seperti ini tidak tahu nama masing-masing.
“Ah.. Aku Go Sii Hye.” Balas gadis itu. Mereka mencapai pintu keluar
“Ahh..hujan. cukup deras.” Ucap mereka berdua dengan kecewa.
“Bagaimana kalau kita duduk dan menunggu disana?” ajak gadis itu sambil mengajak Yura duduk di lantai keramik tempat itu. Yura setuju dan mengikutinya duduk.Tidak lama kemudian., mereka asyik mengobrol. Berbagai hal. Sii Hye lebih banyak bicara sedangkan Yura lebih banyak mendengarkan. Namun Yura sesekali bertanya dan bercerita juga.
Sekitar satu jam mereka bicara. Yura akhirnya mengetahui banyak hal soal gadis itu. Dia baru pulang dari pameran buku di salah satu landmark. Warna favoritt Sii Hye ungu, Makanya dia sempat kelihatan tertarik dengan Jaket ungu Yura. Yura tersenyum geli melihatnya. Saat ditanya warna favoritnya, Yura kebingungan. Yah.. Dia memang tidak punya warna favorit. Sii Hye ternyata lebih tua daripada Yura. Yura sempat terkejut, karena dia merasa justru dirinya yang kelihatan lebih tua secara fisik. Sii Hye menceritakan bahwa dia sekarang kerja sebagai suplier alat kesehatan di tempat yang ternyata tidak jauh dari tempat tinggal Yura. Dulu Sii Hye sempat mengajar sekolah dasar, tapi kesulitannya menangani anak-anak membuatnya hanya bertahan 1 tahun dan tidak memperpanjang kontraknya. Yura sendiri belum bekerja dan masih menganggur. Sii Hye kelihatan sekali sebagai orang yang senang bercerita. Mereka mengobrol banyak hal. Mulai dari kecelakaan yang sempat dialami oleh Sii Hye saat dia mengendarai motor. Ya, mereka ternyata sama-sama pengendara motor. Kecelakaan itu untungnya tidak melukai Sii Hye, tapi cukup membuatnya shock. Apalagi akibatnya, rem motornya berputar 180 derajat dari tempat asalnya. Sii Hye menyewa sebuah tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjanya meskipun rumahnya masih di kota yang sama dengan tempat kerjanya. Sii Hye juga bercerita kalau dia suka sejarah. Dia suka mempelajari sejarah. Saat ditanya sejarah seperti apa, Sii Hye menjawab bahwa dia suka sejarah apapun. Tapi ada satu hal yang membuatnya penasaran hingga saat ini : Sejarah bahasa.
“Iya.. aku ingin tahu. Tuhan kan menurunkan manusia pertama, Adam. Aku sendiri tidak tahu pasti bahasa apa yang digunakan pertama itu. Tapi Tuhan menurunkan saat itu, manusianya adalah manusia pertama, berarti bahasanya satu. Tapi sekarang bahasa kan ada begitu banyak. Tidak terhitung. Aku benar-benar penasaran dengan hal itu. Aku dulu sempat ikut kelas orang.hehe..ya, soalnya aku kan kelas sains. Tapi aku penasaran dan ikut kelas bahasa, saat aku bertanya pada guru kelas itu, dia sendiri belum bisa menjawab dan akhirnya malah terbongkar kalau aku bukan anak bahasa..hehe.”
Yura menatap Sii Hye takjub. Sekarang dia jadi ikut penasaran dengan hal yang sama.
“Wah..benar juga unnie. Aku jadi ingin tau juga. Nanti aku ingin cari tahu juga..” balas Yura semangat.
Sii Hye mengangguk-angguk senang.
“Ah! Aku juga sempat mencari di mesin pencari di internet, tapi belum ada yang memuaskan.”
Yura tersenyum, dia tiba-tiba mengingat kebiasaan dirinya dulu. Saat penasaran dengan sesuatu, dia langsung mengetik dan mencari tahu lewat ‘giigle’, mesin pencari paling terkenal didunia. Kesenangan Sii Hye membaca juga seolah mengingatkan Yura pada kebiasaan lamanya yang akhir-akhir ini jarang sekali dilakukannya : membaca. Yura menyadari, dia seolah melihat sebagian dirinya yang saat ini mulai menghilang pada diri Sii Hye.
“Ah. Yura. Aku minta nomormu ya..Kapan-kapan kita main, kau bisa main ke tempatku kan? Atau kita pergi bersama kemanapun..”
Yura dan Sii Hye lalu bertukar nomor dan tidak lama mereka memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu malam. Mereka berpisah di tengah jalan karena jalur yang dipakai berbeda dan Sii Hye bilang ia ingin mengebut dan mengejar waktu supaya lebih cepat sampai di rumah. Sii Hye pamit dan bahkan membayar uang parkiran untuk Yura.
Di motor, Yura mulai tersenyum. Perasaannya jauh lebih baik dari saat ia keluar rumah tadi sore. Tuhan mengirimkan Sii Hye kali ini. Sebagai pendorongnya untuk tersenyum setelah tadi hampir menangis beberapa kali dan menghilangkan rasa tidak nyaman yang berkecamuk di hati Yura. Masalahnya sesaat terlupakan dan Yura mendapat suntikan semangat baru lewat Sii Hye. Yura menghembuskan nafas. Kali ini karena lega. Dia tersenyum. Mengingat, ini bukan kali pertama Tuhan seperti ini. Dan ini yang Yura sering lupakan. Tuhannya, selalu mengirimkan senyuman setelah Yura merasakan kesedihan dan beban..

Goo Yu Ra
FIN—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s