Mask


Belakangan ini, ada beberapa orang yang ribut soal topeng. Mereka bilang manusia itu hidup dengan topeng. Di salah satu stasiun tv muncul sebuah acara yang katanya benar-benar sebuah realita show. Salah satu orang yang diwawancara mengenai pendapatnya soal acara itu bilang kalau disana topeng manusia itu dibongkar. Pertanyaan saya satu. Kok bisa ?
Gimana sih tandanya manusia itu hidup dengan topeng ? Bersikap berbeda saat di depan orang lain dan saat sendiri ? Baik di depan orang lain tapi saat di belakang orang lain ternyata gak seperti itu ? Dari zaman SMP (atau SD ?) sering banget saya dengar soal Be Your self. No matter what they say ? Jujur. Sampai sekarang saya gak pernah bisa ngerti ucapan ini. Gimana kita bisa nentuin bahwa suatu sikap adalah benar-benar sikap kita. Yang mana dari semua sikap kita itu yang bener-bener ‘yourself’ ? Emang bisa ya hidup benar-benar menjadi diri kita, sementara di sekitar kita ada orang lain. Yang terkadang ingin kita jaga hatinya, ingin kita jaga perasaannya ? dan kenapa? Ada orang-orang yang justru menunjuk sikap kita yang cuek, yang gak berusaha menjaga perasaan orang lain, bahkan, sikap buruk yang kita tunjukin sebagai ‘diri’ yang sebenernya ?
Orang berbuat baik, kadang sering dibilang munafik. Berusaha memisahkan diri dari sesuatu yang dia takut bakal mempengaruhi dia menjadi pribadi yang lebih buruk, tapi dibilang munafik. Berusaha menjalani hidup dengan cara yang dia anggap bisa jadi sesuatu yang berpengaruh baik buat masa depannya, dibilang sok suci. Huh?? Gitu ya?
Pernah ngga sih, misalnya, kita baca sebuah buku, tebel, anggaplah 500 halaman lebih, novel, hanya karena kita penasaran ingin tahu isi buku itu dan pengen cepet-cepet beres bacanya, jadi dibawa ke mana-mana, lalu ketemu salah satu temen dan komentar yang keluar adalah “Buset.. beda,lah bacaannya..” atau “Beda lah orang pinter mah..”. aish.. jujur saya bener-bener gak suka dengan komentar kayak gitu. Maksudnya apa ? saya gak tau deh sampe sekarang. Helloo.. tiap orang punya kesukaaannya sendiri. Komentar kayak gitu, sekalipun maksudnya bercanda, tapi kesannya gimanaa gitu.
Di lain kasus, saat seseorang bicara. Tiap orang punya buku favorit yang berbeda,tiap orang belajar dengan cara yang gak selalu sama, masing-masing orang nerima ilmu dengan cara yang belum tentu sama dan yang masuk ke memorinya pun gak bisa dijamin sama. Ada yang nerima kata-kata sederhana, atau bahkan kata-kata yang benar-benar berdasarkan kamus, ada juga yang lebih nerima kata-kata dalam bahasa asing karena merasa kalau kata itu diterjemahkan ke bahasa kita artinya menjadi kurang pas. Dan semua itu berpengaruh ke kalimat yang diucapkannya. Dalam diskusi, sering ada kata-kata yang diketahui satu orang dan gak diketahui orang lain, ada kata-kata yang dipahami banyak orang tapi gak bisa diterima oleh satu orang lainnya. Jadi kenapa mesti ada kata-kata “bahasanya tinggi amat ?”, “bahasanya tingkat tinggi banget sih..sok pinter.”, “berat banget tuh bahasa..”.. Ohhhh.. set dah.. dari sekian banyak hal yang bisa dinyatakan atau ditanyakan, kenapa kata-kata yang bisa bikin orang segan buat bicara dan buat belajar hal baru kayak gitu yang keluar dari mulut kita (*/okeh..punch me, ganti aja dengan kata saya/author/yang nulis kalau gak terima dengan kita..*/)??
(Ditulis sebenernya tanggak 13 Mei 2011, beres jam 18:59, entah bakal diposting kapan nih di akun Wpgita..hoho.random post.. atau, bolehkah disebut random essay post dengan struktur bahasa acak-acakan dan belum sesuai EYD?.. )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s